Senin, 05 April 2010

gizi kerja

Ilmu gizi pada umumnya mempelajari bagaimana memberikan makanan sebaik-baiknya sehingga kesehatan tubuh menjadi sangat optimal. Gizi kerja adalah nutrisi atau zat makanan yang diperlukan oleh para pekerja untuk memenuhi kebutuhan kalori sesuai dengan jenis pekerjaannya, sehingga kesehatan dan daya kerja menjadi setinggi-tingginya. Gizi kerja yang baik akan meningkatkan derajat kesehatan tenaga kerja dan kesehatan tenaga kerja yang baik akan mempengaruhi produktifitas tenaga kerja yang berarti akan meningkatkan produktifitas perusahaan serta peningkatan produktifitas nasional.
Ada 6 macam unsur gizi dalam makanan yang dibutuhkan manusia, sedangkan fungsi unsur gizi dalam tubuh manusia antara lain:
1. Zat makanan pemberi kalori terdiri dari unsur gizi: karbohidrat, lemak, protein
2. Zat pembangun terdiri dari unsur gizi: protein, lemak, mineral dan air.
3. Zat pengatur terdiri dari unsur gizi: protein, mineral, air dan vitamin.
Sedangkan zat gizi adalah zat-zat yang diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi dan mempunyai nilai yang sangat penting (tergantung dari macam-macam bahan makanannya) untuk memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehari-hari bagi para pekerja. Termasuk dalam memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yaitu penggantian sel-sel yang rusak dan sebagai zat pelindung dalam tubuh (dengan cara menjaga keseimbangan cairan tubuh). Proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yang terpelihara dengan baik akan menunjukkan baiknya kesehatan yang dimiliki seseorang. Seseorang yang sehat tentunya memiliki daya pikir dan daya kegiatan fisik sehari-hari yang cukup tinggi (Marsetyo dan Kartasapoetra, 1991).



Fungsi dari zat gizi antara lain:
1. Memelihara proses tubuh terutama bagi yang sedang dalam masa pertumbuhan.
2. Memperoleh energi untuk melakukan kegiatan fisik sehari-hari.
Dalam melakukan aktifitas sehari-hari tubuh kita memerlukan tenaga. Tenaga ini ini diperoleh dari makanan yang dikonsumsi namun makanan yang dikonsumsi tidak dapat langsung digunakan tapi diubah menjadi zat-zat yang dapat diserap oleh tubuh baru diubah menjadi sumber energi. Adapun makanan yang dikonsumsi harus memiliki kadar gizi yang baik atau biasa disebut makanan berimbang (Balance Diet).
Dalam menyusun menu makanan juga perlu diingat dan diperhatikan masalah menu berimbang/adekuat untuk perorangan atau untuk kelompok sehingga komposisi:
1. Lemak : 20% dari total kalori
2. Protein : 10 - 15% dari total kalori
3. ¬¬¬Karbohidrat : 65 - 70% dari total kalori
Jumlah minimal yang harus dikonsumsi dari masing–masing zat gizi tersebut adalah:
1. Karbohidrat : 50 - 90 gr/hari
2. Protein : 0,8/Kg BB/hari
3. Mineral terbagi menjadi 2 macam yaitu:
a. Makronutrien => 0,005% BB
Contoh: Calsium, Chloride, Magnesium, Kalium, Sulfur, Natrium.
b. Mikronutrien => 0,005% BB
Contoh: Arsen, Nikel, Seng, Silikon, Yodium, Bromine, Bismut.
Masalah-masalah yang juga perlu diperhatikan dalam penyusunan menu bagi tenaga kerja adalah antara lain:
1. Pola makan.
2. Kepercayaan atau agama.
3. Keuanagan.
4. Daya cerna.
5. Mudah dibuat.
6. Volume yang seimbang.
Pedoman untuk penyusun menu berimbang adalah empat sehat lima sempurna. Pekerjaan sangat memerlukan tenaga atau energi yang digunakan untuk melakukan kegiatan ataupun kerja dan hal ini tergantung dari:
1. Umur.
2. Jenis kelamin.
3. Keadaan khusus.
4. Metabolisme.
5. Jenis pekerjaan.
6. Keadaan lingkungan.
Di dalam tubuh sering terjadi kegiatan sel yang biasa di sebut dengan metabolisme. Metabolisme basal adalah sejumlah tenaga yang diperlukan oleh tubuh alam kegiatan istirahat. Kalori yang perlu oleh tubuh diambil dari makanan, besra kecilnya kebutuhan kalori tersebut tergantung dari aktivitas tubuh. Kalori di hasilkan oleh pembakaran bahan-bahan makanan yang masuk kedalam tubuh dengan menggunakan oksigen dari udara.
Bilamana kalori yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan tidak tercukupi dari bahan-bahan makanan yang masuk makan kebutuhan kalori akan di penuhi dengan mengambil zat-zat makanan yang ada di dalam tubuh dan ini akan berakibat turunnya berat badan. Sebaiknya apabila ada kelabihan kalori akan di simpan sebagai lemak cadangan yang berakibat naiknya berat badan. Kalori intake di dapat dari makanan berimbang yang terjadi dari karbohidrat, protein dan lemak. Lemak adalah penghasil kalori tebanyak yaitu menghasilkan 4 kalori (tiap pembakaran 1 gram). Kalori intake yang masuk ke dalam tubuh digunakan dalam bentuk:
1. Metabolisme basal, yaitu sejumlah tenaga yang diperlukan oleh tubuh dalam kegiatan istirahat.
2. Pengaruh makanan atas kegiatan tubuh kira-kira 10% dari kegiatan metabolisme basal.
3. Kerja otot.
Selain itu besarnya kalori yang dianjurkan di tempat kerja adalah 0,4 dari kebutuhan total kalori yang diperlukan oleh tenaga kerja. Pemberian makanan di tempat kerja dilakukan dua kali sehari yaitu pemberian makanan selingan dan makan berat di tempat kerja dengan perbandingan 1 : 4. Makanan yang diberikan kepada tenaga kerja harus bersifat ringan mengandung kalori yang diperlukan.
Berdasarkan proporsi kegiatan yang dilakukan seseorang, pekerjaan seseorang dapat dikategorikan berat, ringan, atau sedang. Menurut WHO (1998) kebutuhan kalori per hari seseorang sebagai berikut:
JENIS KELAMIN BERAT BADAN (Kg) KALORI
Laki-laki 60 3000
55 2900
50 2600
JENIS KELAMIN BERAT BADAN (Kg) KALORI
Perempuan 50 2050
45 2000
40 1800
Tabel 1. Kebutuhan Kalori Per Hari (diambil dari “The Health Aspecth Of Food and Nutrition” Western Pascific Office, Manila WHO 1968”)
Dan kebutuhan kalori tersebut masih harus dikoreksi dengan:
1. Tabel penyesuaian menurut umur.
Umur (Tahun) Persen (%)
20-30 100
30-40 97,0
40-50 94,0
50-60 86,4
60-70 79,0
Lebih 70 69,0




2. Tabel penyesuaian kebutuhan kalori menurut derajat kegiatan.
Berat Badan (Kg) TK 0
Dikurangi TK I
Standart TK II TK III
41-50 -530 0 +360 +810
51-60 -610 0 +390 +870
61-70 -690 0 +400 +900
71-80 -760 0 +410 +930
Hanya pemeliharaan tubuh (istirahat bukan basal) Pekerjaan administrasi, rumah, pengemudi, mengetik Tukang dan petani yang punya keahlian Pekerjaan buruh kasar

3. Keadaan hamil bagi wanita, kebutuhan kalori ditambah 10% dari kebutuhan kalori total.
4. Tabel kebutuhan energi tenaga kerja menurut Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi, 1983.
Jenis Kegiatan Laki-laki Wanita
Ringan 2380 1800
Sedang 2650 2150
Berat 3400 2600

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menganalisa bahan makanan yaitu:
1. Untuk menentukan suatu bahan makanan dipastikan dahulu yang dapat dimakan (edible portion), untuk dibuat contoh yang homogen dan representatif.
2. Bahan yang di analisa adalah bahan mentah.
3. Dihitung setiap 100 gram bahan yang dimakan atau yang lazim di makan.
4. Untuk menentukan nilai kalori bisa dilihat pada buku tabel referensi (tabel analisa bahan makanan).
Maksud daftar analisa bahan makanan ini adalah untuk meringkas atau mengiktisarkan pengetahuan tentang nilai gizi bahan makanan yang terdapat di indonesia. Daftar analisa bahan makanan sehari yang dapat memenuhi standar yang dianjurkan, baik untuk perseorangan maupun kelompok.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi tenaga kerja, antara lain:
1. Faktor ekonomi.
2. Faktor pengetahuan tentang gizi.
3. Faktor prasangka buruk terhadap bahan makanan tertentu.
4. Faktor fadhisme, yaitu kesukaan yang berlebihan terhadap jenis makanan tertentu.
5. Faktor-faktor lingkungan kerja.
Hal ini menentukan pengaruh-pengaruh yang sangat nyata terhadap keadaan gizi tenaga kerja. Selain itu juga ada faktor lingkungan yang penting diantaranya:
1. Tekanan panas.
2. Pengaruh kronis bahan kimia.
3. Parasit dan mikro organisme.
4. Faktor psikologis.
5. Kesejahteraan tinggi tanpa memperhatikan gizi dan kurang olah raga.
Dalam penerapan gizi di perusahaan bias dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya dengan:
1. Pengadaan kantin
a. Tanggung jawab pihak manajemen.
b. Lebih dari 50 orang, adalah biaya dari perusahaan.
c. Letak terpisah.
d. Luas 25 m2 untuk kira-kira 50 orang.
e. Pemberian makan ketika waktu istirahat atau kira-kira 4 - 5 jam setelah bekerja.
f. Petugas dapat penyuluhan tentang kesehatan, gizi dan kebersihan.
g. Petugas harus dikontrol kesehatannya.
h. Pakaian khusus bagi para petugas.
i. Sebaiknya dilayani dengan kupon.
2. Penyuluhan gizi dan kesehatan.
Terhadap semua karyawan termasuk staf dan petugas kantin.
Produktivitas kerja dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya yang mempunyai peranan sangat penting dan menentukan adalah kecukupan gizi. Faktor ini akan menentukan prestasi kerja tenaga kerja karena adanya kecukupan dan penyebar kalori yang seimbang selama bekerja. Seseorang yang berstatus gizi kurang tidak mungkin mampu bekerja dengan hasil yang maksimal karena prestasi kerja dipengaruhi oleh derajat kesehatan seseorang. Tenaga kerja yang sehat akan bekerja lebih giat, produktif, dan teliti sehingga dapat mencegah kecelakaan yang mungkin terjadi dalam bekerja.

Perundang – undangan
1. Peraturan Menteri Perburuhan No.7 Tahun 1964 tentang Syarat-syarat Kebersihan dan Kesehatan serta Penerangan di Tempat Kerja.
2. SE Menaker No. 1 Tahun 1979 tentang Penyediaan Ruang Makan dan Kantin bagi Tenaga Kerja.
3. Peraturan Menkes RI No. 712/Menkes/Per/X/1986 tentang Persyaratan Jasa Boga.
4. Peraturan Menkes RI No. 329/Menkes/Per/XII/1976 tentang Produksi dan Peredaran Makanan.

Minggu, 15 November 2009

Menangani Audience sulit---> komunikasi....semester 5

Diane DiResta, Presiden DiResta Communications, Inc.

Disarikan dari "Knockout Presentations" (Chandler House Press) HBA Bulletin





Anda telah siap. Anda naik ke podium, memulai pembicaraan dan "duer!, jleger!, bledug!" - Anda diserang oleh audience yang ganas. Bagaimana Anda bisa tetap tenang dan mengambil kontrol kembali?

Saat saya mulai menjadi konsultan, Saya ingat tentang tugas pertama Saya. Tugas Saya adalah mendisain dan menyampaikan seminar tentang keahlian menulis dan presentasi untuk 30 orang calon MBA.

Hari besar itu tinggal sehari lagi dan saya sudah siap dengan materi Saya. Hanya saja, ada hal kecil. Pihak kampus menjadwalkan bahwa ujian yang berkaitan dengan materi Saya itu, dilaksanakan sehari setelah sesi seminar Saya.

Secara alamiah, para calon MBA itu berpikir bahwa mereka harus belajar sehari sebelum hari ujian. Dan lebih parah lagi, Saya hanya diberi kesempatan mengisi sesi itu selama satu jam. Biasanya, materi Saya harus "dimakan" seharian penuh. Merekapun berhamburan ke kantor administrasi dan mengancam akan memboikot kelas.

Pada jam empat hari itu, manajemen kampus memanggil Saya dan berkata, "Diane, Saya tidak ingin ada persoalan apapun besok." Kemudian Saya menemui penanggung jawab yang mendatangkan Saya, dan mencoba meyakinkannya untuk menjadwal ulang sesi Saya. Dia menolak.

Saya tidak tidur malam itu sambil memeras otak untuk mencari sebuah solusi. Jika Saya beralasan sakit, Saya akan kehilangan satu klien. Akan tetapi, saya juga tidak mau melangkah masuk ke kandang harimau. Akhirnya, Saya menemukan solusi yang Saya sebut dengan "Strategi 3D" - Depersonalize, Detach, Defuse.

Apakah Anda menangani tim, menjalankan meeting, atau memberikan presentasi oral, tidaklah cukup hanya dengan menguasai materi. Anda juga harus bisa menangani proses. Dinamika kelompok selalu berubah dan berurusan dengan sebuah tim bisa menghabiskan banyak energi. Seorang pemimpin atau fasilitator harus mampu mengubah perspektif dan menggunakan tidak hanya satu strategi.



LANGKAH PERTAMA

Langkah pertama adalah depersonalisasi. Setiap audience datang dengan bagasi emosionalnya masing-masing. Seorang perempuan bisa saja keluar meninggalkan sebuah sesi motivational speaking hanya karena pembicaranya memakai pakaian Elvis, karena dia tidak suka Elvis. Kepergiannya itu tidak berhubungan dengan kemampuan atau bakat sang pembicara. Pelajarannya? Jika Anda bertemu dengan audience yang kritis, sulit atau ganas, jangan diambil hati.



LANGKAH KEDUA

Langkah kedua adalah pembebasan atau detach. Artinya, jangan libatkan ego. Sekali Anda masuk ke pembicaraan secara orang per orang, dan orang yang hadapi adalah seorang biang kerok, maka Anda telah menciptakan sebuah dinamika kompetitif. Jangan biarkan emosi Anda lepas kontrol. Ajukan berbagai pertanyaan yang bisa menghasilkan pengertian, pemahaman dan permakluman. Jangan mengambil sikap bertahan.



LANGKAH KETIGA

Langkah ketiga adalah perlucutan. Hilangkan energi negatif. Salah satu alat perlucutan yang terbaik adalah humor. Jika Anda merasa tertekan, energi negatif akan meningkat. Ambil pendekatan yang ringan, mudah dan menyenangkan. Anda tidak bisa tertawa dan marah pada saat yang bersamaan. Anda harus memilih.



MENANGANI SIKAP BERTAHAN

Untuk bisa menghadapi audience yang sulit, mulailah mengenali tanda-tanda pertahanan. Apakah mereka mulai sering berbicara dengan orang di sebelahnya, terpaku membaca materi, mengotak-atik HP mereka, menantang Anda, mengalami kesulitan mengikuti pembicaraan, atau duduk dengan posisi tubuh tertutup (memeluk badan, meletakkan tangan di tempat tertentu dari tubuhnya dan sebagainya)? Jika Anda merasakan bahwa Anda mulai bekerja lebih keras, maka kemungkinannya Anda sedang berhadapan dengan bentuk-bentuk pertahanan. Sekali Anda bisa mengenali tanda-tanda ini, cari tahu dari mana datangnya.



Pertahanan muncul dari sebab-sebab berikut:

- Bagaimana melakukannya - Berubah menjadi - Ingin menjadi

Apakah mereka bertahan karena mereka tidak tahu bagaimana caranya berpartisipasi dalam sesi Anda? Jika begitu, berikan instruksi yang lebih jelas tentang bagaimana mereka bisa berpartisipasi.

Apakah mereka bertahan karena merasa tidak punya kesempatan untuk terlibat secara produktif? Sebagai contoh, katakanlah Anda telah meminta mereka berpartisipasi melalui diskusi dengan partner di sebelahnya. Beberapa dari mereka mungkin tidak menunjukkan respon. Bisa jadi, mereka belum mendapatkan partner. Tolonglah mereka mendapatkan partner.

Atau, Anda meminta mereka bekerja dalam tim dengan anggota empat orang, dan yang aktif hanya dua orang. Bisa jadi, dua anggota yang pasif adalah orang-orang introvert sementara dua yang aktif adalah extrovert. Mereka mungkin saja kesulitan untuk terjun dan didengar. Jika kasusnya demikian, sediakan kesempatan khusus untuk mereka.

Alasan terakhir untuk sebuah pertahanan adalah kesenjangan dalam motivasi. Anda meminta sukarelawan dan tidak seorangpun mengangkat tangan. Mungkin, mereka belum melihat manfaatnya. Mungkin ada terlalu banyak "makanan" di "piring" mereka, sehingga tidak mampu lagi menambah porsi penugasan. Mungkin, mereka tidak ingin memasuki "wilayah" koleganya. Tugas anda, adalah membantu mereka melihat nilai-nilai yang bisa diperoleh dari partisipasi.

Untuk mematahkan pertahanan, gunakan pola-pola interupsi. Dengan kata lain, lakukan sesuatu dengan cara yang berbeda. Goyang mereka, lakukan percepatan. Ceritakan sebuah kisah. Buat mereka terlibat. Anak-anak yang sedang bermain adalah sebuah contoh situasi tanpa pertahanan.

Apakah Anda sedang melakukan sesuatu yang memperkuat pertahanan mereka? Apakah Anda terlalu kaku? Apakah Anda mengikuti skenario yang sama sekali tak bekerja? Apakah presentasi Anda membosankan? Apakah Anda menciptakan situasi yang pembicara-sentris dan bukan berfokus pada mendengarkan kebutuhan dan ketertarikan mereka? Apakah Anda bereaksi terhadap seseorang yang menyulitkan atau merespon situasi secara keseluruhan?



TETAPKAN SETTING DAN ARAHNYA

Banyak sekali masalah bisa dihindari dengan menetapkan harapan-harapan sejak dari awal. Bila orang merasa tidak jelas tentang sasarannya, tentang peranannya, dan tentang bagaimana mereka dievaluasi, perilaku-perilaku menyulitkan akan muncul. Jika berbagai harapan bisa diidentifikasi dengan jelas, berikan mekanisme feedback dari mereka dan dengarkan dengan seksama apa yang mereka sampaikan. Jika seseorang merasa tidak didengar atau tidak dihargai, maka orang itu akan memunculkan perilaku bertahan.



IDENTIFIKASI KARAKTER

Siapakah yang benar-benar bisa menekan "tombol" Anda? Apakah seseorang yang merasa lebih tahu segalanya, atau tukang komplain yang selalu menemukan kesalahan pada setiap hal? Untuk tetap "cool" dan terkontrol, kenalilah karakter-karakter yang bisa membuat Anda "meledak". Dengan mengidentifikasi dan mempelajari mereka, Anda bisa memperkuat kemampuan Anda.



JENIS-JENIS KARAKTER SULIT

Eager Beaver - Orang ini secara aktif selalu menjadi yang pertama dalam berpartisipasi dan dia berkeinginan membantu. Ia bisa menyulitkan orang lain karena terlalu aktif. Jangan jatuhkan semangat orang ini. Akui partisipasi dan kontribusinya, tapi dorong orang lain untuk ikut berpartisipasi.

Expert - Orang ini menantang otoritas Anda; dan mendebat orang lain. Bisa jadi orang ini benar-benar seorang expert yang membutuhkan pengakuan. Akui kepakarannya tanpa sikap bertahan. Tetaplah bertanya pada orang lain yang bukan pakar tentang pendapat mereka. Strategi jitu untuk para expert ini adalah memainkan kepakaran mereka. Minta mereka menyampaikan pendapat dan pandangan pakarnya. Dengan segera, mereka akan menjadi sekutu tangguh dan siap menghadapi siapapun.

Rambler - Orang ini adalah tukang cerita. Anda meminta waktu, Anda mendapatkan sejarah yang kelewat lengkap lengkap. Untuk menangani seorang rambler, potong bicaranya, intisarikan komentarnya, dan minta orang lain memberikan pendapat. Jangan biarkan orang ini menjadi pembicara pengganti.

Poor Loser - Orang ini tidak akan mengakui satu kesalahan pun. Mereka tidak mempunyai kekuatan ego untuk mengakui kesalahan. Jangan sudutkan mereka. Ciptakan "sepakat untuk tidak sepakat". Biarkan mereka menyelamatkan mukanya.

Dominator - Mereka ingin mengontrol. Mereka bisa mengintimidasi seluruh audience dengan memonopoli pembicaraan atau aktivitas. Jangan biarkan mereka mengambil alih panggung. Jangan biarkan mereka melakukan kudeta. Gunakan humor. Sebagai contoh, saat meminta respon, Anda bisa bergurau dengan mengatakan, "Ayo! Siapa saja asal bukan Bambang!" Jika ini tidak berhasil, istirahatkan sesi dan bicaralah pada orang itu secara personal.

Side Conversators - Dua atau lebih orang bisa terlibat dalam pembicaraan selama presentasi Anda. Jika audience besar dan ruangan luas, abaikan saja. Tapi dalam kelompok kecil, hal ini mengalihkan perhatian dari pembicaraan Anda. Lakukan kontak mata dengan tukang ngobrol ini dan berhentilah bicara sampai mereka menyadari. Anda bisa mengkonfrontasi mereka secara langsung dan meminta mereka untuk berhenti bicara selama sesi Anda. Atau, cobalah teknik berjalan. Berjalanlah ke arah mereka, berdiri di depan mereka dan teruslah berbicara. Mereka akan menangkap maksud Anda.

Negative - Orang ini sangat bertahan dan memandang negatif terhadap Anda, terhadap materi, topik atau poin Anda, dan mereka tidak ingin berada di ruangan itu. Mulailah mencari tahu latar belakangnya. Tawarkan untuk rekonsiliasi, atau tawarkan untuk berdiskusi setelah sesi.

Complainer - Whiner - Selalu menemukan kesalahan di mana pun. Sering mengeluh tapi tanpa solusi. Mereka mungkin tidak bersikap negatif terhadap materi Anda, tapi memang suka mengeluh. Inilah orang yang "Iya sih, tapi..." Jangan terjebak pada permainan mereka. Ambillah alternatif. Tetaplah fokus dan maju terus.

Hecklers - Cobalah untuk mengabaikan pengacau ini. Jika mereka tidak mendapatkan respon dari Anda, mereka mungkin akan menyerah. Jika Anda menerapkan retorika, maka cara ini hanya akan mengundang mereka kembali lagi untuk mengacaukan Anda. Berjalanlah ke arah mereka, letakkan tangan Anda di pundak mereka dan terus bicara. Jangan menunjukkan sikap menyerang atau meletakkan sesuatu selain tangan Anda. Atau, mintalah mereka memperkenalkan dirinya - mereka biasanya lebih memilih menjadi NN.

Saat berurusan dengan audience sulit, ingatlah bahwa perilaku yang mengganggu adalah cerminan dari kebutuhan yang tak terpuaskan. Strategi terbaik Anda adalah rasa humor dan sebuah pengertian tentang latar belakang perilaku itu. Nanti, jika Anda menghadapi kasus yang sama, ambil sudut pandang 3D - Depersonalize, Detach, and Defuse.



Dicopy dari: milis TCI

gizi kerja----> gizi...semester 5

Dalam melakukan aktifitas sehari-hari tubuh kita memerlukan tenaga. Tenaga ini ini diperoleh dari makanan yang dikonsumsi namun makanan yang dikonsumsi tidak dapat langsung digunakan tapi diubah menjadi zat-zat yang dapat diserap oleh tubuh baru diubah menjadi sumber energi. Adapun makanan yang dikonsumsi harus memiliki kadar gizi yang baik atau biasa disebut makanan berimbang (Balance Diet).
Ilmu gizi pada umumnya mempelajari bagaimana memberikan makanan sebaik-baiknya sehingga kesehatan tubuh menjadi sangat optimal. Gizi kerja adalah nutrisi atau zat makanan yang diperlukan oleh para pekerja untuk memenuhi kebutuhan kalori sesuai dengan jenis pekerjaannya, sehingga kesehatan dan daya kerja menjadi setinggi-tingginya. Gizi kerja yang baik akan meningkatkan derajat kesehatan tenaga kerja dan kesehatan tenaga kerja yang baik akan mempengaruhi produktifitas tenaga kerja yang berarti akan meningkatkan produktifitas perusahaan serta peningkatan produktifitas nasional.
Ada 6 macam unsur gizi dalam makanan yang dibutuhkan manusia, sedangkan fungsi unsur gizi dalam tubuh manusia antara lain :
1. Zat makanan pemberi kalori terdiri dari unsur gizi : Karbohidrat, lemak, protein
2. Zat pembangun terdiri dari unsur gizi : Protein, Lemak, Mineral, dan Air.
3. Zat pengatur terdiri dari unsur gizi : Protein, Mineral, Air, dan Vitamin.
Jumlah minimal yang harus dikonsumsi dari masing – masing zat gizi tersebut adalah :
1. Karbohidrat : 50-90 gr/hari
2. Protein : 0,8/Kg BB/hari
3. Mineral terbagi menjadi 2 macam yaitu :
a. Makronutrien => 0,005% BB
Contoh : Calsium, Chloride, Magnesium, Kalium, Sulfur, Natrium.
b. Mikronutrien => 0,005% BB
Contoh : Arsen, Nikel, Seng, Silikon, Yodium, Bromine, Bismut.
Dalam menyusun menu makanan perlu diingat dan diperhatikan masalah menu berimbang/adekuat untuk perorangan atau untuk kelompok sehingga komposisi :
1. Lemak : 20% dari total kalori
2. Protein : 10-15% dari total kalori
3. ¬¬¬Karbohidrat : 65-70% dari total kalori
Masalah-masalah yang juga perlu diperhatikan dalam penyusunan menu bagi tenaga kerja adalah antara lain ;
1. Pola makan.
2. Kepercayaan atau agama.
3. Keuanagan.
4. Daya cerna.
5. Mudah dibuat.
6. Volume yang seimbang.
Pedoman untuk penyusun menu berimbang adalah Empat Sehat Lima Sempurna. Pekerjaan sangat memerlukan tenaga atau energi yang digunakan untuk melakukan kegiatan ataupun kerja dan hal ini tergantung dari :
1. Umur.
2. Jenis kelamin.
3. Keadaan khusus.
4. Metabolisme.
5. Jenis pekerjaan.
6. Keadaan lingkungan.
Besarnya kalori yang dianjurkan di tempat kerja adalah 0,4 dari kebutuhan total kalori yang diperlukan oleh tenaga kerja. Pemberian makanan di tempat kerja dilakukan dua kali sehari yaitu pemberian makanan selingan dan makan berat di tempat kerja dengan perbandingan 1 : 4. Makanan yang diberikan kepada tenaga kerja harus bersifat ringan mengandung kalori yang diperlukan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi tenaga kerja, antara lain:
1. Faktor ekonomi.
2. Faktor pengetahuan tentang gizi.
3. Faktor prasangka buruk terhadap bahan makanan tertentu.
4. Faktor fadhisme, yaitu kesukaan yang berlebihan terhadap jenis makanan tertentu.
5. Faktor-faktor lingkungan kerja.
Ini menentukan pengaruh-pengaruh yang sangat nyata terhadap keadaan gizi tenaga kerja. Faktor lingkungan yang penting adalah:
1. Tekanan panas.
2. Pengaruh kronis bahan kimia.
3. Parasit dan mikro organism.
4. Faktor psikologis.
5. Kesejahteraan tinggi tanpa memperhatikan gizi dan kurang olah raga.
Penerapan gizi di perusahaan dengan:
1. Pengadaan kantin
a. Tanggung jawab pihak manajemen.
b. Lebih dari 50 orang, adalah biaya dari perusahaan.
c. Letak terpisah.
d. Luas 25 m2 untuk kira-kira 50 orang.
e. Pemberian makan ketika waktu istirahat atau kira-kira 4-5 jam setelah bekerja.
f. Petugas dapat penyuluhan tentang kesehatan, gizi dan kebersihan.
g. Petugas harus dikontrol kesehatannya.
h. Pakaian khusus bagi para petugas.
i. Sebaiknya dilayani dengan kupon.
2. Penyuluhan gizi dan kesehatan.
Terhadap semua karyawan termasuk staf dan petugas kantin.